Sejarah Berdirinya ' Javasche Bank ' di Indonesia ...





JAVANSHE BANK (BANK INDONESIA)
DI BANDUNG TEMPO DULU

Pemulihan kedaulatan Belanda sesudah pemerintahan Inggris yang sesaat,sama sekali tidak membawa perubahan. UU mata uang tahun tahun 1817 hanya memulihkan keadaan abad ke-17 dengan memberi nilai kepada mata uang lima sen Belanda yang dulu. Demikianlah di Hindai Belanda dibebani mata uang yang secara resmi 20 persen lebih tinggi nilainya dari pada nilai sebenarnya. Pada saat bersamaan,uang kertas yang lama dan uang perunggu yang jelek kembali dilepaskan. Bahkan Gubernur Jenderal protes,katanya, seandainya ia harus mengirim pulang uang Hindia Belanda yang diterimanya ke rumah,ia pasti bangkrut..!
 

Kembali berjuta-juta mata uang perunggu beredar,dan tak seorang pun tahu jumlahnya. Penurunan nilai mata uang disertai dengan kenaikan harga di segala bidang,yang tidak hanya mengakibatkan penduduk pribumi menderita,tetapi juga mempersulit ekspor. Didirikannya 'Javansche Bank' pada tahun 1826 dan dikeluarkannya peraturan lain dengan tujuan membenahi segala urusan untuk sementara waktu situasi menjadi baik.
 

Keadaan yang lebih parah masih akan datang. Adanya sistem 'tanam-paksa' tahun 1830,tata keuangan mendapat rangsangan baru.
Lagi-lagi bereda banyak sekali mata uang perunggu,senilai seperseratus gulden perak. orang menyebutnya banjir perunggu.
 

Dari Birmingham para pembuat uang palsu memasukan jutaan tiruan mata uang ke pasaran Hindia Belanda dengan laba yang sangat tinggi. Ekonomi dalam negeri terancam menyimpang dari arah normal. 'Sanering uang' ditahun 1846 menyebabkan keadaan menjadi membaik. Lambat laun jumlah uang perunggu dan uang kertas yag kurang bernilai didesak olah uang perak baru. Tetapi di tahun 1861 pun masih 900 juta mata uang perunggu yang lolos dari Sanering itu.
 

Di tahun 1875 Belanda menukarkan nilai peraknya dengan nilai emas,dan tentu saja Belanda serta Hindia Belanda. 
Sekarang Belanda mengalami kesulitan karena kelebihan uang perak.Hasil penjualan dipasaran dunia kurang menarik karena harga perak dimana-mana merosot. jadi tindakan yang paling menguntungkan ialah : menjual perak yang kelebihan itu ke Hindia Belanda,tentu saja dengan harga lama yang tinggi,sebagai uang perunggu yang tidak bermutu itu. Nah,itulah yang dilakukan. 

Meskipun begitu,sanering uang tersebut tidak seluruhnya berhasil. Di tahun 1930 masih dilakukan usaha resmi terakhir untuk mendesak keluar uang perunggu yang jelek. tetapi beberapa daerah sampai tahun 1940 pun mengalami 'sanering uang'.(Sumber : Indonesia sebagai sebuah titik putar perdagangan dunia 1993)



DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.