Sejarah Kesenian Ketoprak Surakarta





KERETA KENCANA SUSUHUNAN SURAKARTA
FOTO DIBUAT ANTARA TAHUN 1910-1930


Sejarah Ketoprak Surakarta.
Menurut  sejarahnya, ketoprak lahir dari daerah klaten
(Surakarta), tetapi dikembangkan di Yogyakarta. Bahkan sampai sekarang orang ,masih menganggap bahwa induk ketoprak adalah Yogyakarta. jenis ketoprak dari daerah ini mempunyai gaya khas yang dinamakan ketoprak Mataram, lawannya adalah ketoprak pesisir yaitu, ketoprak yang tumbuh di luar Yogyakarta.

Di Klaten (Surakarta) orang mulai mengenal ketoprak pada abad ke-20. Lahirnya ketoprak di ilhami oleh permainan gejogan dan kotekan, yaitu permainan oleh gadis-gadis desa di waktu bulan purnama. dengan lesung yang mempunyai ritme. Bunyi lesung ini biasanya juga diiringi oleh nyanyian-nyanyian. Dari gejogan dan kotekan inilah lahir ketoprak, yang peralatan musiknya ditambah dengan kendang dan seruling, dan dibubuhi cerita pendek di sekitar tempat ini.

Pada tahun 1908 ketoprak lesung itu dibawa ke Surakarta oleh Ki Atmocendono, seorang pejabat pemerintah kesunanan di Klaten. Di Solo, ketoprak disempurnakan oleh R.M. T. Wreksodiningrat, dan dikenal sebagai ketoprak di sekitar tempat itu.

Menurut tradisi, struktur pertunjukan ketoprak mempunyai tujuh macam adegan, yang tidak dipakai sekaligus semua di dalam satu malam pertunjukan. Ketujuh macam adegan tersebut adalah adegan keraton atau kadipaten, adegan taman, kesatriaan, pertapaan atau padepokan, pedesaan dan adegan alun-alun.

Adegan keraton atau kadipaton menggambarkan seorang raja atau adipati yang sedang dihadap oleh patihnya. Pembicaraan dalam adegan ini tidak ada sangkut pautnya dengan cerita, pembicaraan berkisar di sekitar kehidupan sehari-hari di kaputren yaitu tugas-tugas ke rumah-tanggaan. Adegan kesatriaan pada dasarnya sama dengan taman, hanya pelakunya adalah putra-putra raja yang dikelilingi oleh para pembantu.
Pembicaraan pada mulanya menyangkut kehidupan disekitar kesatriaan (pemeliharaan hewan piaraan, biasanya kuda dan burung). Latihan prajurit, ronda, berburu dan sebagainya.

Adegan pertapaan atau padepokan menggambarkan seorang pendeta dengan pura-putrinya atau murid-muridnya. Pembicaraan yang dilakukan sama dengan dalam keraton, taman dan kesatriaan.

Adegan pedesaan menggambarkan seorang petani yang sedang mengadakan pembicaraan dengan istri atau anaknya, di rumah atau di sawah.Adegan ini bisa juga menggambarkan seorang kepala desa yang sedang dihadap atau di sawah.Adegan ini bisa juga meng-
gambarkan seorang kepala desa yang sedang dihadap oleh para perabot desa.

Adegan alun-alun menggambarkan punakawan yang sedang menunggu tuannya di alun-alun, di halaman istana atau padepokan, tapi bisa di tengah hutan, di lapangan, dan sebagainya.
Disini para punakawan itu berdialog dan melucu.

Cerita-cerita ketoprak meliputi cerita-cerita rakyat (misalnya Joko Kendil, Joko Bodo) atau cerita-cerita babad. Cerita babad adalah cerita yang paling digemari. Sebagian besar cerita berasal dari Babad Tanah Jawi, yang berisi sejarah kerajaan Demak, Pajang dan Mantaraman.

Cerita mantraman biasanya dipertunjukan dalam bentuk fragmen-fragmen. Misalnya cerita Raden Said dan Jaka Tarub. Fragmen dari periode kerajaan Demak,misalnya Jaka Tingkir dan ario Penangsang.

Fragmen yang paling populer adalah cerita sejarah dari Panembahan Senopati, Trunojoyo, Sultan Agung. Bentuk lain adalah cerita yang diambil dari babad setempat seperti "Siung Wanoro" daribabad Pajajaran, "Banyak Wide" dari babad Banyumas, "Menakjinggo" dari Banyuwangi "Baron Sakander" dari Babad Patu "Warok Suromenggolo" dari babad Trenggalek,dan sebagainya.

Cerita ketoprak juga banyak mengambil cerita Panji,seperti ande-ande lumut,Panji Laras,dan sebagainya. Cerita menak,cerita 1001 malam,cerita dari negeri Cina, misalnya Sampek Ingtai dan Sie Jin Kui.

Sumber:Kapita Selekta Manifestasi Budaya Indonesia 



DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.