Showing posts with label Sejarah Kerajaan Pajajaran. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Kerajaan Pajajaran. Show all posts

Sejarah Prabu Siliwangi
Dalam Cerita Pantun
Bagian 3. Tamat



Prabu Siliwangi
PRABU SILIWANGI DALAM CERITA PANTUN

Bagian 1nya klik disini ...
Jika pun terpaksa terjadi peperangan,ternyata Satria dari Pakuan Pajajaran yang tangguh,hampir tidak pernah dapat dikalahkan. Begitu pula perlakuannya kepada bekas musuhnya sangat baik,sehingga mereka itu kemudian mengabdikan dirisebagai hulubalangnya. Hal-hal itu memberikan pula kilasan wibawa dan kebesaran Prabu Siliwangi walaupun dalam cerita,dirinya sudah tidak lagi jadi pelaku.

Dalam cerita pantun Siliwangi dan 'Mundinglaya Dikusuma',Prabu Siliwangi masih tampil,walaupun sebagai satria aktif, melainkan sebagai raja yang di abdi. Yang memberikan hukuman dan ganjaran. Dalam jalan cerita ia tidak lagi jadi pelaku utama,melainkan lebih sebagai penggerak cerita. Pada CP-CP lain kedudukannya dalam cerita mungkin hanya digambarkan saja atau malah disebut- sebut saja. Tetapi,hal itu sama sekali tidak menyebabkan tidak penting,sebab pengembaraanya itu dilakukan dengan penuh kebanggaan,dan tetap memberikan kewibawaan dan kekuatan bagi para satria yang sedang aktif dalam perjuangan. para satria lain dan dan para puteri,begitu pula para raja dimanapun memberikan perlakuan khusus kepada 'Satria Tedak Pakuan Pajajaran'.

Pengutaraan tentang Prabu siliwangi diceritakan melakukan tindakan. Deskripsikan,yaitu Prabu Siliwangi digambarkan keadaanya,didialoagkan,yaitu Prabu Siliwangi berbicara sebagai seorang yang memiliki kearifandan budi yang tinggi,pengasih,adil,tampan,danmenarik,berani dan disegani, perwira dan ksatria,dan pertapa. Pemerintahannya merupakan teladan pemerintahan yang adil,kerajaan makmur,sehingga rakyat hidup tenteram. 

Demikianlah,sebagai tokoh ideal perwatakannya dibentuk untuk mendukung amanat seperti itu. Pelukisan tokoh yang menyalahi sifat-sifat demikian akan dianggap  tidak cocok,danakan mendapat penolakan dari masyarakat. Bahkan dalam memerankannya diatas pentas,mungkin dirasakan tidak cocok belaka,sebab setiap orang sudah memiliki gambaran idaman masing-masing,yang dianggap tak dapat diganggu gugat.

Untuk melaksanakan amanat yang dibebankan kepada tokoh ideal ia harus mempunyai keturunan yang akan mewarisi kerajaan dan memeliharanya. Dalam hubungan ini Prabu Siliwangi dalam CP,disebutkan mempunyai 75 anak orang anak,dan anak-anaknya serta keturunanannya itu memerintah dimana-mana,seperti diutarakan dalam berbagai CP ia juga dilengakapi oleh tokoh-tokoh penunjang,seperti isteri rupawan yang setia,yang jumlahnya disebutkan sebanyak 151 orang,hulubalang yang gagah berani,dan penasihat serta pengasuh yang bijaksana, seperti'Kidang Pananjung',Gelap Nyawang,dan Lengser. 
Selesai ...
        
 Sumber:Seminar Sejarah dan Tradisi Tentang Prabu
Siliwangi,Bandung,20-24 Maret 1985
                      (oleh: Yus Rusmana)

DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


Prabu Siliwangi Pangkal Silsilah Kebangsawanan Bagian 5.


kerajaan pajajaran
KERAJAAN SILIWANGI 
PANGKAL SILSILAH KEBANGSAWANAN


Bagian 1-nya klik disini ...
Prabu Siliwangi Pangkal Silsilah Kebangsawanan
Dalam celah-celah kekaburan itu tampak bahwa garis silsilah para penguasa daerah yang semuanya memusat ke arah tokoh Siliwangi pada umumnya cukup wajar dan dapat diterima. Sekalipun Pajajaran diruntuhkan oleh Banten dan Cirebon,namun tidak akan ada santana dari kedua daerah itu yang menyangkal bahwa sebagai keturunan Syarif Hidayat mereka pun keturunan Siliwangi.

Dalam segala kekaburan kisahnya,penulis 'Carita Waruga Guru' mengakhiri rantai silsilahnya pada tokoh 'Siliwangi'. Para penulis babad seolah-olah tidak mau perduli dengan para penguasa 'Pajajaran' sesudah dia kecuali 'Guru Gantangan 'yang juga dikenal beristeri banyak (menurut babad Pajajaran lebih dari 80 orang). Raja ini masih sempat mengadakan perjanjian perdamaian dengan 'Susuhunan Jati' dalam tahun 1533,dan masih tercatat dalam dokumen 'Portugis' dengan nama 'Ratu Samiam'(Ratu Sangiang) karena sebagai putera mahkota ia pernah diutus ayahnya menemui 'Laksamana Bungker' (alfonsi d'Albuquerque) di Malaka tahun 1512 dan 1521.

Hanya beliau di antara para penguasa Jawa Barat masa silam yang upacara penobatannya dihadiri oleh orang Eropa (Portugis) yang dipimpin oleh 'Hendrik de Leme' ipar 'Alfonso' dalam pertengahan bulan Agustus tahun 1522. Dia pula,mungkin raja pertama di Indonesia,yang pernah mengadakan perjanjian bilateral dengan Portugis yang bertindak atas nama raja Portugal pada 21 Agustus 1522.
 

Karena itulah di antara para putera Siliwangi, kecuali Walangsungsang yang keturunannya tersebar di Cirebon, nanya 'Guru Gantangan' (Surawisesa) yang sering tercantum dalam silisilah. Cukup wajar bila tokoh ini disisipkan sebagai 'ayah' 'Sunan Corenda' dalam Babad Pajajaran atau dalam lain sebagai pengganti tokoh lain putera Siliwangi yang kebetulan tidak diketahui namanya.Selesai ... 

Oleh:Saleh Danasasmita   
sumber:Seminar Sejarah dan tradisi Tentang Prabu siliwangi
 (Bandung 20-24 Maret 1985)



DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


Prabu Siliwangi Pangkal Silsilah Kebangsawanan Bagian 4.



PRABU SILIWANGI PANGKAL 
SILSILAH KEBANGSAWANAN


Prabu Siliwangi  Pangkal Silsilah Kebangsawanan
Isteri sebanyak itu kadang-kadang hanya merupakan so called concubines (isteri dalam nama) demi tuntutan politik yang mesti ditempuh karena melalui ikatan perkawinan inilah kesetiaan para penguasa di daerah asal ibunya. Hal itu terbukti misalnya dengan para penguasa di kawasan Garut dan Tasikmalaya. Sekalipun kerajaan Galuh telah dikalahkan oleh Cirebon dalam pertempuran Palimanan (528) dan perang Talaga (1530) namun mereka tidak mau mengakui kekuasaan Cirebon,bahkan setelah pakuan diruntuhkan Banten-Cirebon tahun 1579,mereka lebih senang memilih dan mengakui Geusan Ulun sebagai penerus kekuasaan Pajajaran dari pada mengakui Panembahan Ratu.

Juru pantun dan penulis babad sering menunjukan kebesaran seorang raja dengan menyebutkan jumlah isteri-isterinya. Hal itu mudah dipahami karena jumlah isteri seorang raja dapat dijadikan ancer-ancer jumlah daerah (kerajaan kecil) yang dikuasainya. Biasanya seorang penguasa daerah hanya mempersembahkan seorang puteri anggota keluarganya.

Tokoh-tokoh disekitar siliwangi,kecuali beberapa orang isterinya, terbukti kurang dikenal oleh para penulis babad. Sebagai contoh dapat diambil tokoh Lampung Jambul dan Purwa Galih. Lampung Jambul(= Pangeran Lampung) adalah sebutan tunggal karena ibunya berasal dari Lampung. Ia mertua Prabu Siliwangi. Purwa Galih adalah purohita(pendeta tertinggi) keraton pada masa Siliwangi,bahkan dialah yang berhasil membujuk penguasa Pajajaran itu agar mengurungkan niatnya untuk menyerbu Cirebon ketika Syarif Hidayat memutuskan hubungannya dengan Pakuan.

Kita melihat bahwa dalam beberapa babad kedua tokoh terhormat itu telah dijadikan panakawan ala Karang Tumaritis. Nasib mereka lebih buruk lagi dari Patih-Senapati Bimaraksa putera 'Resi Jantaka' (rahiyangtang Kidul) dari Denuh yang sekaligus menjdi menantu,patih dan senapati Bayangkara Purbasora penguasa Galuh. Dalam babad ia disebut Aki Balangantrang sebagai tukang bobodon.       
Bersambung ke bagian 5 klik disini





DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


Prabu Siliwangi Pangkal Silsilah Kebangsawanan Bagian 3.



Prabu Siliwangi
MOJANG PRIANGAN


Prabu Siliwangi Pangkal Silsilah Kebangsawanan
Pucuk umum Sumedang adalah cicit Dewa Niskala dan cucu simbar kancana. Ia berdarah campuran Galuh-Talaga-Sumedang. Begitu pula puteranya yaitu Angkawijaya atau Geusan ulun tidak berdarah Siliwangi karena ayahnya pun,Pangeran Santri,adalah cucu Pangeran Panjunan (abdurrahman) dari matangsari. Pangeran Panjunan adalah putera syeh Datuk Kahfi,dan Matangsari adalah cucu Amuk Murugul ratu Japura. Namun dalam babad Sumedang susunan Martanagara,disebutkan bahwa Pangeran Panjunan adalah itu putera Sunan Gunung Jati. Mungkin darah Siliwangi di Sumedang baru dimulai dari Rangga Gede karena disebutkan ia keturunan Rajamantri.
  
Kedudukan Siliwangi sebagai Sungapan silsilah para bupati dan para santana daerah pada dasarnya dapat diterima atau paling sedikit dapat difahami. Carita Ratu Pakuan menyebut tidak kurang dari 62 orang isteri Siliwangi yang berasal dari berbagai daerah. Kitab Pacakaki Masalah karuhun Kabah (1854) menyebutkan beberapa belas orang keturunan Ratu Sunda (Siliwangi) yang menjadi penguasa di berbagai daerah. 

Selanjutnya Babad Pajajaran menyebutkan bahwa isteri Prabu Siliwangi itu berjumalh 151 orang (Satus langkung gangsal dasa:Rajamantri tan kawilis) Entah jumlah nama yang benar namun berita tentang raja Sunda beristeri banyak itu tercatat pula oleh Tome Pires yang pernah mengunjungi pelabuhan Sunda tahun 1513. Dalam 'The Suma Oriental' yang diterbitkan tahun 1944 ia mencatat bahwa isteri raja Sunda berjumlah seribu orang. Jelas hal itu tidak benar namun menunjukan bahwa jumlah yang sesungguhnya tentu cukup banyak.
Bersambung ke bagian 4 klik disini 




DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


Prabu Siliwangi
Pangkal Silsilah Kebangsawanan
Bagian 2.



 Prabu Siliwangi
PRABU SILIWANGI PANGKAL
SILSILAH KEBANGSAWANAN

Keterputusan itu tampak sekali bila kita mempehatikan 'Carita Waruga Guru' (pertengahan abad XVIII). Naskah ini ditulis dalam huruf dan bahasa Sunda kuno namun kisah sejarah yang ditampilkannya sudah sama dengan isi naskah babad yang ditulis satu abab kemudian. Sampai saat ini naskah tersebut merupakan naskah 'tertua' yang menyebutkan 'Banga' sebagai pendiri kerajaan 'Majapahit'dan 'Manarah' sebagai pendiri kerajaan Pajajaran. Tokoh-tokoh 'Wretikandayun'(pendiri Galuh) dan Tarusbawa (pendiri Pakuan Pajajaran) yang tersurat dalam naskah-naskah jaman Pajajaran sudah tidak dikenal oleh penulis 'Carita Waruga Guru' Naskah ini pula yang menghubungkan sejarah 'Galuh' dengan tokoh nabi Nuh dan disebutkannya bahwa nabi ini sejaman dengan prabu 'Damarsiksa.

Hal serupa juga terjadi dengan naskah-naskah Cirebon.'Pustaka Pakungwati Carbon' yang ditulis 1719 oleh 'Wangsa Manggala' (Demang Cirebon) dan tirta manggala (Demang Cirebon Girang) atas perintah Sultan Muhamad Safiudin (Matang Aji) secara keseluruhan telah mirip lakon wayang. Agak beruntung karena para penulisnya masih mengenal nama 'Tarumanagara' yang nama rajanya disebutkan memakai 'Warman'. namun diakuinya bahwa isi halaman terakhir itu   dikutipnya dari 'Pustaka Nagara Kretabumi.

Itulah gambaran silsilah di atas garis Siliwangi yang tertera dalam berbagai naskah babad. Gambaran silsilah di bawah garis Siliwangi juga bervariasi,tetapi hal ini tampak beraturan karena garis silsilah dilokkan ke arah penguasa setempat. Kekisruhan yang terjadi,kalau ada, biasanya bergeser satu generasi yang tampaknya 'disengaja' untuk membelokan 'darah Siliwangi' ke arah tokoh tertentu. Dalam 'Babad Pajajaran' misalnya tercatat bahwa 'Sunan Corenda' (Raja Talaga) adalah putera 'Guru Gantangan' agar dengan demikian contoh 'Satyatih' (Pucuk Umum Sumedang) memiliki 'darah Siliwangi.

'Sunan Corenda' alias Batara 'Sakayawayana' adalah putera 'Ratu Simbar Kancana'  dari 'Kusumalaya'(Ajar Kutamangu). Kusumalaya ialah putera 'Dewa Niskala ' dari isterinya yang keduaa. Karena 'Kusumalaya'ialah itu saudara seayah 'Siliwangi',Maka 'Sunan Corenda' tentu menjadi kemenakan raja Pajajaran tersebut. Raja Talaga yang 'berdarah Siliwangi' dimulai dengan 'Rangga Mantri'(nama aslinya: Batara Tina Buana,Sunan Parung Gangga,Prabu Brajamusti dan Pucuk Umum Talaga). Tokoh ini adalah 'raja Maja' (antara Majalengka dengan Talaga) dan putera 'Munding Surya Ageung putera Ratu Wulansari puteri Sunan Corenda,ia menjadi raja Talaga. Dalam hal ini Sunan Wanaperih memang cicit Siliwangi. Namun bukan dari garis 'Guru Gantangan'.
Bersambung ke bagian 3 klik disini...
DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


Sejarah Prabu Siliwangi
Dalam Cerita Pantun
Bagian.2



GADIS PRIANGAN TEMPO DULU

Bagian 1 nya klik disini ...
Dalam cerita pantun Siliwangi tersebut tidak ada peristiwa yang menyebabkan Prabu Siliwangi menunjukan sifat-sifat yang luar biasa,sebab memang peristiwa berlangsung dalam lingkungan isteri serta hambanya saja,tidak ada tantangan yang menyebabkan ia menunjukan kepribadiaannya yang mendalam. Pada pembicaraannya dengan 'Rajamantri'dan Padnawati begitu pula dengan 'Kidang Pananjung',ia lebih lembut dan akrab, tetapi pada waktu dihianati oleh 'Padnawati',ia murka sekali kedua perilaku itu biasa dapat terjadi pada siapapun. Pada perilaku-perilaku tersebut oleh juru pantun dilukiskan dengan sifat yang manusiawi, malah 'Kidang pananjung' demi pengabdiannya,telah melakukan titahnya,sebab ia beranggapan bahwa 'Sang Prabu'dalam keadaan silap dalam kemarahannya itu. 

Demikian Prabu Siliwangi dilukiskan dalam segi kemanusiaan yang wajar,malah ada bagian yang bertentangan sifat kepahlawanannya,yaitu ketika ketakutan kala penjelmaan 'Padnawati' yang mengerikan,dan pada waktu itu tergila- gila kepada 'lelayang salaka domas'.Hal ini dapat pula dipandang sebagai usaha juru pantun untuk mendekatkan tokoh ideal kepada kehidupan sehari-hari,seperti yang dikenalnya dan seperti yang mempengaruhi dirinya.Hal seperti itu terjadi juga dalam cerita Sri Rama dalam hikayat melayu (Ikram 1980). Dengan cara itu masyarakat merasa akrab dengan tokoh ideal ini.

Dalam CP Siliwangi,demikian pula dalam CP-CP lainnya Prabu Siliwangi sudah jadi. Sifat-sifat dari tokoh ideal atau tokoh pahlawan cerita seperti kearifan,kasih sayang, keadilan, ketampanan,keberanian,keperkasaan dalam peperangan,sudah tidak dipertunjukan lagi. Sebab,kiranya,sudah dianggap lekat dengan dirinya. Sudah terbentuk dalam dirinya sejak masa lalu,yang peristiwanya tidak lagi menjadi cakupan CP yang ditemukan sekarang. Kebesarannya terbayang dari keadaan kerajaanya yang oleh 'Juru Pantun' dilukiskan aman dan tenteram dan adil dan makmur. begitu pula terbayang dari pengabdian para raja di berbagai daerah kepada 'Satria Tedak Pakuan ' yaitu anak cucu.
Bersambung ke HALAMAN BERIKUT >>

DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


Sejarah Sunda : Kerajaan Pajajaran Dalam Kesenian Ludruk
Bagian 2


Bagian ke-1nya klik disini ...
Selanjutnya ia menuju ke kerajaan Pajajaran, Sang Prabu Cilihawan dimasukkan kedalam tirai besi(kerangkeng,Jawa), lalu dikunci dari luar dan kemudian dibakar. Ciung Wanara merebut tahta Pajajaran, dengan sebutan Harya Banyak Wide (Supriyanto,1948: 82-83).
  
Versi cerita Ciung Wanara tersebut banyak persamaannya dengan cerita Ciung Wanara dalam buku Poenika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi Ing Taun 1647 yang diusahakan oleh W.L. Olthof bernama Sri Pamekas, pendeta bernama Ajar Cepaka, nama sang dewi dan patih tidak disebutkan.
  
Versi cerita ini juga tak jauh berbeda dengan cerita yang berjudul " Lalampahanipun Siyung Wanaran "  yang terdapat dalam buku Babada tanah Jawi, jilid I, aksara jawa, terbitan balai Pustaka, 1939. Buku ini ditulis dalam bentuk puisi tembang macapat. Bagian yang mengandung cerita Ciung Wanara ditulis dalam mentrum Dhandanggula. aturannya : i (10i), II (10a), III (8e), IV (7u), V (91), VI (7a), VII (6u), VIII 98a), IX (12i), x (7a). 
Maksudnya angka Romawi menunjuk nomer baris, angka lainnya menunjuk jumlah suku kata setiap baris, dan huruf menunjuk bunyi akhir setiap baris. Adapun pembukaan bagian cerita ciung Wanara berbunyi sebagai berikut : 

  Datatita jenenging narpati,
  Pajajaran nenggih kang winarni,
  wonten kang tinutur maleh,
  winten jenengan wiku,
  atatapa ana ing ngardi,
  kilen ing Pajajaran,
  prenahe dhudhukuh,
  nama Ki Ajar Wacaka,
  patapane ler kilen saking ngardi,
  gunung ing Pajajaran.

  Pan uwus kaloking praja salwir,
  jwan Ki Ajar tasdik ing paningal,
  wruh sadurunging binadhe,
  pan wus katur sang prabu,
  yen ki Ajar kuncara tasdik,
  samana sri narendra,
  ngandika sru bendu,
  dateng rekyana apatya,
  heh apatih ingsun akarsa nyetenni,
  mring si Ajar Wacana (1939: 39)

Kutipan di atas dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti sebagai berikut : " begitulah nama sang raja, tersebutlah di Pajajaran, ada yang perlu diceritakan lagi, adalah seorang pendeta, bertapa di gunung, di sebelah barat Pajajaran, tempat tinggalnya, adapun sang pendeta bernama Ki Ajar Wacana, dan tempat bertapanya di sebelah barat laut, di gunung negara Pajajaran. // sudah terkenal di seluruh negara, bila Ki Ajar seorang yang waskita, mengerti apa saja yang belum terjadi, dan sudahlah disampaikan pada sang raja, bila ki Ajar terkenal waskita, maka tersebutlah sang raja, berkata agak sedih dan murka, kepada patihnya, wahai patih cobalah kau selidiki, akan si Ajar Wacaka. Oleh:Suripan Sadi Hutomo.

Sumber:SEMINAR SEJARAH DAN TRADISI TENTANG PRABU SILIWANGI. Bandung:20-24 maret 1985.



DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


Sejarah Majapahit Jeung Pajajaran



" SEJARAH PAJAJARAN JEUNG MAJAPAHIT "
Majapahit! ngaran Majapahit matak narik kana hate urang,sok ras emut ka jaman kerta raja-raja Jawa murba misesa ngereh sakuliah Hindia.

Dongkapna kaayeuna urang Jawa teu aya kendatna aremuteunana ka Majapahit, ka alam lemah caina panjang-punjung kakawasaan sareng kasatriaan jaman gadeg Pajajaran,dayeuhna nelah Pakuan.Dina babad Jawa oge eta karajaan teh kasebat,nanging dianggap ngadegna heulaan Majapahit.

Raden Susuruh,putra Ratu Pajajaran anu panutup,ditundung ku raina anu misah ibu,anu jeunenganana Siung Wenara.
Raden Susuruh angkat sakaparan-paran sumping kana handapeun tangkal maja, ari ditingali buahna ngan hiji-hijina,ana diraosan buah teh raosna pait, lajeng anjeunna ngababakan didinya,nepi ka ngadeg nagara:eta nagara dingaranan Majapahit.

Saparantos lega jajahanana tur tohaga,lajeng nempuh Pajajaran dongkap ka erehna ku anjeunna.Jadi cindekna barang Majapahit ngadeg, Pajajaran runtag.Ari nu mawi kitu,margi babad Tanah Jawi ngukuhan paham yen karajaan-karajaan di Jawa tilem-timbul,tegesna upami timbul karajaan anyar, karajaan nu heubeul narikolot paeh maneh atanapi musna dibasmi ku nu anyar.Ku sabab kitu Pajajaran sareng Majapahit teh,disarangka henteu bareng pada ngadeg, nya eta waktos ngadeg karajaan Majapahit,nagara Pajajaran harita kedah runtag.

Saur sepuh,anu ngadegkeun Pajajaran teh Ciung Wanara : upami nurutkeuneata carios,eta dua karajaan teh diadegkeunana meh sareng.Ayeuna uranga taluntik urang tembongkeun yen eta oge henteu kenging dianggap leres pisan.Dupi anu tetela karajaan Pajajaran sareng Majapahit teh sajaman sarta pacorok urusan.

Katerangan anu lesres tina sajarah anu pangkunana, moal boa tangtos anu aya keneh rengkolna dina batutulis oge, ari pasal sajarah Sunda mah, saeutik pisan pulunganeunana. Batutulis anu pangkunana, nya eta anu kapendak di Ciaruteun.Numutkeun unina eta batutulis,teu lami ti samentas taun 400 di Jawa Kulon ngadeg hiji karajaan Hindu,wastan Taruma.Ayeuna oge aya keneh anu jadi pengeling-ngeling ka eta nagara,nya eta Citarum.

Sababaraha windu lamina les teu aya deui katerangan, kenging-kenging deui katerangan saparantos mendak batutulis di Kebon Kopi, yen kinten-kinten dina taun 932 masih keneh aya kaadaban Hindu di Jawa-Kulon. Dina taun 1030 mimiti mendak ngaran Sunda. Kasebat dina opat batutulis ti Cibadak.Raja anu ngadawuhan nulis dina eta batu, jenengannana Jayahupati basana basa Jawa kuna. Upami nilik kana gelaran-gelaran eta raja, urang tiasa nangenan yen eta karajaan teh kacida pacantelna sareng Jawa.

Sawatawis windu ti harita,mutkeun cariosna nukapendak dina hiji babad,Sunda teh kabawah ku karajaan Sumatra, nya eta karajaan Sri Wijaya,nanging kenging deui beja kabeh dieunakeun,kaunggul dina buku Nagarakertagama karangan raja Kertanagara di Singasari (1268-1292), nya eta hiji karajan di Jawa anu ngadeg samemeh Majapahit.

Tulisan dina batutulis anu pangkunana pisan anu di tulis ku basa Sunda, nyaeta anu kapendak ti Kawali ti Galuh.Di dinya kasebat Prabu Raja Wastu Kancana anu ngereh kota Kawali.Kawasna mah eta raja teh,nya Raja Rahyang Niskala Wastu Kancana tea anu kaungel dina batutulis di Bogor,nya eta eyangna Raja anu ngadegkeun nagara Pajajaran.


Batutulis anu di Bogor tea jadi pitulung ageng pisan kana babad Sunda,margi mere katerangan hal jenengan nu ngadegkeun Pakuan teh.Eta raja nya putra Rahyang Niskala Wastu Kancana anu dikurebkeun di Nusalarang.


DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


Sejarah Sunda : Kerajaan Pajajaran Dalam Kesenian Ludruk
Bagian 1




ludruk
KESENIAN - LUDRUK
Ludruk adalah drama tradisional rakyat Jawa Timur yang usianya relatif muda jika dibandingkan dengan kesenian kentrung. "L. James Peacock" tertarik seni tradisional ini dan telah menulis buku berjudul "Rites of Modernization,Simbilio and social aspects of Indonesia Proletarian Drama (1968)".

Seni ludruk sangat populer di Surabaya dan Jombang. Seni ini juga dikenal di daerah Malang dan Mojokerto.
Menurut sejarahnya,ludruk lahir di Jombang. Dalam musyawarah ludruk itu dirintis oleh "Pak Santik". Tokoh ini berasal dari desa Ceweng,Kecamatan Goda, Kabupaten Jombang.
  
Ludruk rintisan Pak Santik ini disebut "Ludruk lerok" (dari kata lorek=coreng moreng) dan berkembang antara tahun 1907-1915). kemudian muncul " ludruk besutan " (dari kata bebed dan maksud) dan hidup antara tahun 1915-1920. terakhir muncul " ludruk panggung ", yaitu ludruk yang memaksudkan unsur cerita dalam pertunjukannya dan cerita tersebut dipanggungkan seperti halnya cerita sandiwara.
  
Kasanah cerita yang dipanggungkan oleh kesenian ludruk beraneka warna. Cerita tersebut ada yang berasal dari kehidupan sehari-hari dan ada juga yang berasal dari cerita rakyat. Dalam hubungan pemanggungan cerita rakyat. Dalam hubungan pemanggungan cerita rakyat,adajuga beberapa cerita rakyat yang berkaitan dengan nama Pajajaran. Misalnya cerita " Ratu Sagara kidul ",Nyai Rara Kidul mantu, dan Siyung Wanara.
  
Mengenai cerita Siyung Wanara atau Ciung berikut diringkaskan inti sari ceritanya berdasarkan versi yang dipanggungkan oleh organisasi Ludruk Persada di Malang. Ceritanya begini : 

"Prabu Cilihawan (ada juga yang menyebut:Siliwangi atau Silihwangi) yang memerintahkan negeri Pajajaran, merasa khawatir terhadap Ki Anjarwilis. Pendeta Ki Anjarwilis pengaruhnya semakin besar di negerinya.
Maka sang prabu memerintah Patih Mangku Praja, agar mengajak Dewi diminta berpura-pura hamil, dan bokor kencana diletakkan di perutnya kemudian diikat dengan rapi.
  
Sesampainya di pertapaan,Ki Ajar Wilis mensabda Dewi Sumekar, ia benar-benar hamil. Patih mangku Praja merasa geram. Di tengah perjalanan Dewi Sumekar badannya terasa panas, dan ia mandi. Sewaktu mandi itulah, diketahui bahwa ia benar-benar hamil.

Sesampainya di kerajaan, Prabu Cilihawan amat murka, merasa dihina oleh Pendeta ki Ajar Wilis. Maka sang Prabu memerintahkan kepada prajurit dan Patih Mangku Praja, agar Ki Ajar Wilis dibunuh saja.
  
Sewaktu ki Ajar dibunuh,ternyata jasadnya hilang. Bersamaan dengan hilangnya jasad ki Ajar, terdengarlah suara kutukan : " Kelak Dewi Sumekar akan melahirkan bayi laki-laki. Lewat tangannyalah akan terbals kematiaannya.
  
Genap sembilan bulan,Dewi Sumekar melahirkan anak laki-laki. Bayi itu mula-mula akan diracuni, tetapi akhirnya dibuang ke sungai Kerawang. Akhirnya bayi itu ditemukan oleh suami istri Ki Krawang, yang pekerjaannya mencari ikan di sungai. Karena dua suami istri itu bertemu dengan burung Ciung (semacam menco) dan Wanara (kera), maka bayi itu diberi nama " Ciung Wanara ".
Bersambung ke bagian-2 klik disini ...


DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


Prabu Siliwangi
Pangkal Silsilah Kebangsawanan
Bagian 1.





     Siliwangi Sebagai Pangkal Silsilah Kebangsawanan
Bila kita memperhatikan rangkaian silsilah raja-raja dalam berbagai babad yang kemudian mengarah kepada hubungan kekerabatan para bupati dan para santana setempat,dapatlah disimpulkan bahwa silsilah di atas (sebelum) tokoh Prabu Siliwangi amat kabur dan sangat bervariasi sehingga sulit bahkan mustahil dikompromikan antara naskah yang satu dengan naskah yang lainnya.

Hal ini mudah difahami karena masa sebelum 'Siliwangi' merupakan periode sejarah yang tidak lagi terjangkau oleh pengamatan mereka. Di samping itu penulisan babad sejak abad ke-18 pada umumnya telah dipengaruhi oleh gaya cerita Panji dan lakon wayang. Akibatnya segi-segi sejarah sering terabaikan karena warna kisah dititik beratkan kepada segi petualangan pemegang peran utama,dan dengan sendirinya juga dibumbui dengan keadaan menurut jaman penulisnya. 

Dalam Babad Pajajaran (Abad XIX) misalnya tiap perang yang dikisahkan hanya dipenuhi oleh suara senapan,meriam dan asap mesiu. Senjata tajam'sudah tidak terpakai sama sekali',pada hal yang dikisahkan adalah tokoh 'Guru Gantangan' yang mampu terbang ke langit dan masuk ke dasar bumi.

Namun yang terpenting dari penyebab 'kekisruhan' semacam itu ialah terputusnya hubungan antara para pujangga tersebut dengan karya-karya tulis para pujangga jaman 'Pajajaran' Dalam keadaan seperti itu naskah 'Carita Parahiangan' umpamanya merupakan barang'asing'di tengah-tengah para ahli warisnya. Huruf dan Bahasa Sunda kuno menghilang dari percaturan budaya manusia Sunda dan sebagai mana kita alami,kita baru mengenalnya kembali setelah dari para cendikiawan Belanda.
Bersambung ke bagian 2 klik disini ...

DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


Prabu Siliwangi Raja Pajajaran
Bagian 2



Sejarah Prabu Siliwangi
TRADISI NASKAH ABAD XVII DAN XIX

- Halaman Pertamanya DISINI >>

Sebutan 'Siliwangi' logikanya baru akan muncul setelah peristiwa tersebut. Itulah masalah sehubungan dengan catatan perjalanan 'Tohaan Bujangga Manik'.

Hal pertama yang kita lihat ialah: Bujangga Manik baru menyusun naskahnya beberapa waktu setelah ia tiba kembali dari perjalannya di 'Pakuan' karena ia pun mengisahkan pula bagai mana dirinya dielu-elukan oleh ibunya pada saat tiba dirumah. Hal kedua yang juga menarik perhatian ialah isi surat Dr.Noorduyn kepada penulis yang memberitakan bahwa dalam bagian akhir naskahnya terdapat kisah 'Perjalanan Bujangga Manik ke Surga'. Jadi ada indikasi bahwa 'Bujangga Manik' menyusun naskahnya lebih kemudian dari masa perjalanan yang telah dilakukannya. Namun berapa lama ?

Seandainya naskah ini  ditulis setelah tahun 1482 atau setelah sebutan Siliwangi untuk 'Sribaduga Maharaja 'populer', maka keterangannya tidak bertentangan dengan kesimpulan'Wangsakerta' karena dapat saja ia menyisipkan nama 'Silih Wangi' dalam naskahnya. Dalam hal ini dapat dimaklumi bahwa 'Sri Baduga Maharaja' dilahirkan di 'Ibukota Kawali',pernah tinggal dan menjadi penguasa di kerajaan 'Sindangkasih'karena perkawinnnya dengan 'Ambetkasih' lalu menikah dengan 'Subanglarang' puteri Ki Gedeng Tapa raja Singapura. Kepindahannya ke Pakuan baru terjadi setelah pernikahannya dengan 'Kentring Manik Mayang Sunda puteri Prabu Susuktunggal (kakak seayah Dewa Niskala) raja Sunda di Pakuan. Jadi,mungkin saja ia memiliki 'sasakala' di wilayah timur.

Namun seandainya nama'Silih Wangi' itu telah dicatat oleh 'Bujangga Manik' sebelum 'Sri Baduga' dinobatkan muncul persoalan berikut:pertama. Ada kemungkinan nama'Siliwangi' itu telah dipopulerkan untuk 'Sri Baduga' (nama kecilnya:Pamanah Rasa alias 'Jayadewata') sebelum ia menjadi Susuhunan Pajajaran karena posisinya sudah jelas menjadi putra mahkota Galuh dan Pajajaran (atas nama isterinya)karena Amuk Murugul putera sulung Susuktunggal yang menjadi ratu Japura tidak ditetapkan sebagai penerus tahta. Dalam hal ini keterangan 'Bujangga  Manik'masih sejalan dengan keterangan ' Wangsakerta ' .Kedua,seandainya hal yang pertama itu tidak terjadi,maka tokoh ' Silih Wangi 'yang disebut oleh 'Bujangga Manik' jelas berlainan dengan tokoh 'Siliwangi' yang dimaksudkan oleh 'Wangsakerta'. BERSAMBUNG >>
  

DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!


Sejarah Prabu Siliwangi Dalam Carita Pantun ...




Sejarah Kerajaan Siliwangi
 SEJARAH KERAJAAN SILIWANGI DALAM CARITA PANTUN 

Cerita Pantun (CP) yang kita temukan sekarang,pada umumnya mengisahkan para pelaku setelah Prabu Siliwangi,yaitu anak-anaknya atau satria lain yang seangkatan dengan mereka dan yang lebih kemudian,sehingga ,karena itu,hal ihwal Prabu Siliwangi tidak banyak di ungkapkan. 
Sempat didapatkan, gambaran secara demikian tidak ditemukan.Mungkin dalam CP Siliwangi tidak banyak di ungkapkan.
  
Mungkin dalam CP Siliwangi yang judulnya disebut dalam Siksa Kanda ng Kareasian. Prabu Siliwangi dikisahkan sebagai sinatria aktif dilapangan sehingga mungkin gambarannya atau segala peristiwa dikemukakan dengan lebih menyeluruh. Pada CP-CP yang ahkan dalam CP yang berjudul siliwangi (juru pantun Usup) Prabu Siliwangi dikisahkan sudah menjadi raja Pajajaran dan pada CP ini disebutkan bahwa Prabu Siliwangi beristeri 151 orang,yang pertama namanya Rajamantri dan yang terakhir bernama Padnawati,yang tinggal di Slalaka.

Cerita berkisar sekitar mendapatkan 'lelayang salaka Domas rarawis emas'  yang ada di luar angkasa dan berakhir dengan diserahkannya lelayang tersebut dengan oleh 'Mundinglaya Dikusumah' yang sudah banyak dikenal. Pelaku yang aktif adalah 'Mundinglaya Dikusumah',yang berjuang untuk mendapatka pengakuan sebagai anak Prabu Siliwangi.

Prabu siliwangi dikisahkan hubungannya dengan kedua isterinya itu,yaitu dengan Rajamantri isterinya yang sangat mencintainya dan sangat mengabdi kepadanya,dan dengan Padnawati yang hanya ingin diakui sebagai isteri kapada suami,dan malah berani mempermalukannya. hubungan yang lain adalh dengan 'Kidang Pananjung',patih tua,tempat menitipkan Padnawati,dan secara bijaksana menjaga keselamatannya, kemudian juga keselamatan 'Mundinglaya',sehingga mereka terlepas dari kemakmuranPrabu Siliwangi,dan sekaligus juga menjaga kewibawaan raja yang di abdinya itu. 

Prabu Siliwangi dilukiskan perlakuannya berkasih-kasihan dengan Rajamantri,juga perilakunya waktu dipermalukan oleh Padnawatiyaitu ketakutan menghadapi penjelmaan Padnawati sebagai makhluk mengerikan. tindakannya,yaitu pada saat 'Mundinglaya' telah berhasil menunaikan tugasnya mendapatkan 'Lelayang Salaka Domas.
Bersambung ke bagian 2 klik disini ... 
DIJUAL BUKU-BUKU KUNO / LAMA ... !!!